20 November 2019

Suhada dalam review Matahari di atas Gilli

"Ini penantian apa? Saya menunggu Suamar yang membingungkan. Saya juga menunggu anak saya lahir, tapi saya takut ...! Saya benar-benar merasa sendiri, buk No ...! Padahal saya ingin anak saya lahir tidak seperti saya. Saya harus merawatnya, saya harus menyusuinya! Tapi saya ingin Suamar menemani saya. Cuma itu keinginan saya, buk No. Cuma itu!"
(Matahari di atas Gilli - hal 79)

Sepenggal pelampiasan penantian seorang perempuan bernama Suhada yang tengah mengandung sembilan bulan terhadap suaminya, Suamar. Kepergian suami sejak hamil sebulan yang tak kunjung pulang pun memberi kabar membuat hati Suhada mengemban rindu yang dalam. Belum lagi sebuah kekhawatiran jelang persalinan.

Tak ada yang bisa dilakukan dengan perut yang kian membesar dan tubuh yang bertambah payah selain menanti kepulangan sang pujaan dengan duduk menanti di tepian dermaga hingga jelang senja. Seakan ingin menyampaikan salam rindu melalui angin serta ombak lautan yang menjadi jarak pemisah keduanya. Suhada tak ingin anaknya terlahir seperti dirinya yang tak mengenal siapa orang tuanya. 

Perempuan asal Sukabumi yang diboyong ke pulau Gilli ini masih sedikit bersyukur, ada buk No sang ibu angkat yang sangat perhatian bak ibu kandung, ada kedua orang tua Suamar yang tak luput menjenguk dan membawakan udang bakar, serta masih bisa terhibur kala mengajar di sekolah meski gedungnya telah runtuh.

Semangatnya untuk memajukan Gilli dengan mengajar baca tulis dan berbahasa Indonesia menemui rintangan sama berat dengan lakon hidupnya, tetapi Suhada pantang menyerah. Ia tetap meyakinkan warga akan pentingnya anak-anak bersekolah. Dirinya sempat trenyuh kala ada seorang muridnya bertanya, "Apakah Gilli juga Indonesia? Kok Gilli tidak ada di peta?" Inilah nasionalisme yang terus dipupuk Suhada.

"Novel ini juga menggugat ketidakadilan dalam pendidikan yang dialami banyak daerah terpencil di sekitar pulau Jawa, dibandingkan dengan keadaan di kota-kota besar. Ketidak adilan seperti itu akan lebih banyak dan lebih parah dialami oleh daerah yang lebih jauh dan lebih terpencil, khususnya di luar Jawa" ungkap Ir. Sholahuddin Wahid dalam statementnya untuk buku ini. 

Kisah pun berlanjut hingga hujan yang telah lama dinantikan membasahi tanah Gilli, kabar kepulangan Suamar sampai ke telinga Suhada. Senyum riang terpancar di sana. Penantian segera menemui ujungnya.

Hari kepulangan telah tiba, penantian di dermaga tidak lagi membawa keluhan berganti menjadi harapan. Harapan segera berjumpa, harapan dapat ditemani sang suami kala persalinan. Nahas, hujan rupanya membawa badai di lautan. Suamar tak bisa menyeberang dan lagi-lagi tanpa memberi kabar.


Matahari di atas Gilli sebuah karya Lintang Sugianto setebal 225 halaman yang diterbitkan oleh Bima Rodheta Indonesia. Tak tanggung-tanggung, W.S. Rendra sebagai kata pengantarnya.

"Inilah keistimewaan Lintang dalam kemampuannya melukiskan peristiwa jiwa. Barangkali dalam hal ini hanya bisa ditandingi oleh Leila Chudori, yang secara kebetulan juga seorang perempuan" (W.S. Rendra untuk novel Matahari di atas Gilli) 

Kelihaian sang penulis dalam merangkai kata dipadukan dengan deskripsi latar tempat, sosial, dan budaya masyarakat Pulau Gilli (dalam cerita ini yang dimaksud penulis adalah Pulau Gilli Ketapang, Probolinggo) yang akurat membuat saya harus menitikkan air mata kala menemui sad ending. Mengaduk-ngaduk perasaan seolah kejadian tragis itu benar-benar di depan mata.

Menurut saya novel ini sangat recomended untuk dibaca meski terbitan tahun 2004.

18 November 2019

Matahari di atas Gilli

Nemu buku ini waktu lihat rak buku koleksi Rumah Baca Indonesia Kita yang rencana akan ditata di teras rumah, sepertinya menarik.

Karena apa?
Ada W.S. Rendra tercatut di sampulnya.

Tahu kan siapa beliau itu?

Nah, sepekan ke depan niatan mau baca buku ini saja.

Matahari di atas Gilli
Karya Lintang Sugianto dengan pengantar W.S. Rendra

Penasaran?
Sama, aku juga.

Jadi makin bersemangat baca buku ini.

Seorang W.S. Rendra saja sampai menuliskan demikian.

Di hari pertama ini, tak terasa sudah 49 halaman yang kubaca hanya dalam sekali duduk. Cerita tentang penantian seorang istri yang tengah mengandung di sebuah pulau bernama Gilli.


Bukankah menjadi matahari yang lembut juga sebagian cita-citanya. Menerangi tanpa menyakiti Suhada, yang sekarang telah menjadi miliknya adalah jawaban Tuhan yang sepaham dengannya.
(Matahari di atas Gilli - hal. 23)

Oke, bagi yang penasaran nanti setelah selesai baca aku coba tulis review-nya ya. Simak saja

#RCO6 #OneDayOnePost

16 November 2019

Ulasan Cerpen Berjudul Jangan Tidur di Malam Hari Karya Hiday Nur

Cerita pendek yang akan kita ulas kali ini besutan penulis kondang asal kota Tuban, Hiday Nur yang dimuat pada laman ngodop.com edisi 6/I/Agustus 2019. Meski sang penulis lebih condong ke genre non fiksi, ternyata lihai juga dalam memilih diksi menjadi sebuah cerita yang cukup ringan, mengalir, dan tentunya penuh hikmah yang dapat diambil sebagai sebuah pelajaran.

Karena merupakan genre fiksi jenis cerita pendek, maka kita akan ulas dari segi unsur intrinsik dan ekstrinsik. Namun sebelumnya perlu diketahui pengertian dari unsur intrinsik dan ekstrinsik itu sendiri. 

Unsur intrinsik adalah unsur pembangun cerpen yang berasal dari dalam cerpen itu sendiri. Sementara unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur cerpen yang berada di luar karya sastra. 

Baiklah, mari kita ulas satu per satu, dimulai dari unsur intrinsik.

1. Tema 
Hiday Nur kali ini mengangkat tema tentang hubungan sosial yang sangat rentan untuk dibahas. Namun ternyata dalam cerita ini bisa disajikan dengan apik dan mengena. Opening yang ringan, seakan membicarakan kehidupan sehari-hari pada umumnya tetapi berhasil membawa pembaca larut untuk terus membaca hingga selesai.
Pada bagian ending diberikan semacam shock therapy. Pembaca akhirnya akan berkata, "Oh ternyata membahas tentang kekuasaan." Lugas dan bisa diterima logika.

2. Alur
Penggunaan alur maju dengan sedikit tarikan flash back membawa pembaca mudah mencerna tahapan peristiwa yang terjadi. 

3. Latar
Latar tempat tidak digambarkan dengan detail di sini, hanya disebut sebuah kampung yang terdapat kepala suku dan warga. Apakah kampung ini di daerah perkotaan, pedesaan, ataukah pelosok belum tergambar jelas mengingat nama-nama tokoh yang digunakan seperti Tuan Hugo dan Chickgo tidak lazim digunakan di Indonesia. 
Namun, latar suasana dapat dirasakan dengan jelas. Perkampungan yang damai dengan warga yang hidup saling mengenal dan rukun. 

4. Tokoh dan perwatakan
Tuan Hugo yang pada awalnya berwatak positif (suka menghibur, dermawan, baik hati) ternyata di akhir cerita dituliskan menyimpan sifat di luar dugaan. Demikian juga dengan sang anak, merupakan peniru yang ulung sehingga mempunyai watak yang sama.
Tokoh tambahan yaitu sang kepala suku hanya sekilas saja digambarkan, namun sudah cukup mengantar pembaca untuk bisa mengidentifikasi seperti apa tokoh ini.

5. Point of View
Penulisan cerita dengan mengambil POV 3 merupakan sudut paling aman dan bisa menyusur semua lini tokoh.

6. Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 
Penulis sudah lihai nampaknya dalam kaidah penulisan sesuai EBI jadi tidak butuh tenaga ekstra untuk mengerti makna tiap kalimat. 

7. Amanat
Secara eksplisit cerita ini memberi sebuah nasehat bahwa segala sesuatu tidak sepenuhnya akan kita ketahui, ada kalanya kita paham tapi di lain waktu tak mengerti sama sekali. Inilah kehidupan yang masih penuh dengan misteri.

Bagaimana dengan unsur ekstrinsiknya?

Tak banyak unsur ekstrinsik yang diambil oleh penulis. Sejauh pengamatan hanya ada unsur latar belakang masyarakat yakni berkaitan dengan perhelatan akbar agenda negara tentang pemilihan kepala negara. Belum lama agenda nasional ini usai mungkin menjadi sumber inspirasi tersendiri bagi penulis.

Unsur ekstrinsik kedua adalah nilai moral yang hendak diangkat menjadi pesan akhir dari cerita ini.

Demikian sedikit ulasan sebuah cerita pendek yang tayang di laman ngodop.com. Semoga di lain waktu bisa mengulas cerita-cerita lain dengan berbagai keunikan masing-masing. 

Suhada dalam review Matahari di atas Gilli

"Ini penantian apa? Saya menunggu Suamar yang membingungkan. Saya juga menunggu anak saya lahir, tapi saya takut ...! Saya benar-ben...